Berbagi Informasi Positif, merupakan langkah beramal secara modern, melalui media online dengan mengikuti perkembangan jaman yang semakin maju. mari kita saling berbagi, beramal, saling membantu terhadap sesama, tanpa memandang Suku, Bangsa, Ras, maupun Agama. Karena semua itu adalah ciptaan Allah Swt. semata.
Sabtu, 10 Februari 2018
TAK KENAL MAKA TAK SAYANG, MARI SAYANGI ORGAN TUBUH KITA.
Jumat, 09 Februari 2018
Teknik Cermati Dalam Membeli Ban Mobil
Rabu, 18 Oktober 2017
Problematika senioritas
SENIORITAS
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah ๏ทบ bersabda :
ุฎَْูุฑُ ุงููุงุณِ ุฃََْููุนُُูู ْ ِูููุงุณِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” [HR Thabrani]
ุฅَِّู ุงََّููู ูุงَ َْููุธُุฑُ ุฅَِูู ุตَُูุฑُِูู ْ َูุฃَู َْูุงُِููู ْ ََِْูููู َْููุธُุฑُ ุฅَِูู ُُูููุจُِูู ْ َูุฃَุนْู َุงُِููู ْ ».
“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan pekerjaan kalian.” [HR Muslim]
dan ditegaskan oleh Allah swt : Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.” [QS Al-Hujurat: 13]
ู َْู ุทَุงَู ุนُู ْุฑُُู َูุญَุณَُู ุนَู َُُูู
Orang yang panjang umurnya dan baik pekerjaannya [HR Turmudzi]
ูุง ุฃู ูุฑ ุงูู ุคู ููู ุฅู ููุช ุตุจูุงً، ููุณุช ุจุฃุตุบุฑ ู ู ูุฏูุฏ ุณููู ุงู ููุง ุฃูุช ุจุฃูุจุฑ ู ู ุณููู ุงู ุนููู ุงูุณูุงู ุญูู ูุงู: ุฃَุญَุทْุชُ ุจِู َุง َูู ْ ุชُุญِุทْ ุจِِู
Wahai Amirul Mu’minin, jika aku dianggap masih kecil maka aku tidaklah lebih kecil dari burung hudhudnya Nabi Sulaiman dan engkau tidak lebih tua dari Nabi Sulaiman AS ketika hudhud berkata kepadanya: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya”[QS An-Naml : 22]
ุฃูู ุชุฑ ุฃู ุงููู ููู ุงูุญูู ุณููู ุงู ููู ูุงู ุงูุฃู ุฑ ุจุงููุจุฑ ููุงู ุฏุงูุฏ ุฃููู.
Tidakkah engkau mengetahui bahwa telah Allah memberikan pengertian hukum kepada Nabi sulaiman. Jika segala urusan itu ditentukan oleh usia maka Nabi Dawud-lah (Ayah Nabi Sulaiman) yang lebih pantas (untuk mengerti hukum).
ูุง ุฃู ูุฑ ุงูู ุคู ููู ูู ูุงู ุงูููู ูู ุง ุชููู ููุงู ูู ู ุฌูุณู ูุฐุง ู ู ูู ุฃุญู ุจู ู ูู
“Wahai Amirul Mukminin, jika statement anda benar (yang lebih tua yang berhak) maka ada orang yang lebih berhak atas kedudukanmu dari pada engkau”
ูุง ุฃู ูุฑ ุงูู ุคู ููู ุฅู ุฃูุงุณุงً ุบุฑูู ุญูู ุงููู ูุซูุงุก ุงููุงุณ ุนูููู ، ููุง ุชูู ู ู ู ูุบุฑู ุญูู ุงููู ูุซูุงุก ุงููุงุณ ุนููู، ูุชุฒู ูุฏู ู ูุชููู ู ู ุงูุฐูู ูุงู ุงููู ูููู : " ููุง ุชููููุง ูุงูุฐูู ูุงููุง ุณู ุนูุง ููู ูุง ูุณู ุนูู " .
“Wahai Amirul Mukminin, Banyak orang yang tertipu dengan kebaikan Allah dan pujian manusia kepadanya maka saya mengharapkan agar anda
ุชุนูู ูููุณ ุงูู ุฑุก ูููุฏ ุนุงูู ุงً :: ูููุณ ุฃุฎู ุนูู ูู ู ูู ุฌุงูู
ูุฅู ูุจูุฑ ุงูููู ูุง ุนูู ุนูุฏู :: ุตุบูุฑ ุฅุฐุง ุงูุชูุช ุนููู ุงูู ุญุงูู
Belajarlah, sebab tiada manusia terlahir dalam keadaan berilmu. Tidaklah sama orang berilmu dengan orang yang bodoh karena pembesar dari suatu golongan jika tidak berilmu maka akan menjadi kecil dalam suatu forum perkumpulan. [Al-Mustathraf Fi Kulli Fann Mustathraf]
Villa : "Kalau gitu, kenapa pegawai yang baru masuk kok bisa dipromosikan, sedangkan saya tetap di posisi yang sama?"
DR.H.Fathul Bari Alvers
PP Annur2.net Malang, Ind
ZIARAH RASUL VII
23 Nopember 2017 :: 28.5 Jt :: 13 Hari, Lebih Lama Mekkah :: Pesawat Saudia Langsung Madinah :: Fasilitas Lounge Bandara :: Hotel bintang 4 jarak dekat :: Bersama Dr.H.Fathul Bari Badruddin & Keluarga besar PP ANNUR 2 Malang
Kantor PP An-Nur 2 Al-Murtadlo,
Hubungi,
Ust. Mujiono Abdul Hamid
WA/HP
+6282331865292
Jumat, 11 Agustus 2017
Perbedaan jin iblis dan syaitan
A. Jin
Menurut Ibnu Aqil sebagaimana dikutip asy-Syibli dalam bukunya Akam al-Marjan fi Ahkam al- Jann, mengatakan bahwa pengertian Jin menurut bahasa artinya yang tersembunyi, terhalang, tertutup. Disebut jin, karena makhluk ini terhalang (tidak dapat dilihat) dengan kasat mata manusia.
Oleh karena itu, bayi yang masih berada di dalam perut ibu, disebut janin (kata janin dan jin memiliki kata dasar yang sama yakni jann) karena ia tidak dapat dilihat dengan mata. Demikian juga orang gila dalam bahasa Arab disebut dengan majnun (dari kata jann juga) karena akal sehatnya sudah tertutup dan terhalang.
Jin diciptakan dari bahan dasar api, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan,
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ (14) وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ(15
“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” (QS. Ar-Rahman: 14 – 15)
Jin memiliki kesamaan dengan manusia dalam dua hal:
Jin memiliki akal dan nafsu, sebagaimana manusia juga memiliki akal dan nafsu.
Jin mendapatkan beban perintah dan larangan syariat, sebagaimana mausia juga mendapatkan beban perintah dan larangan syariat.
Oleh karena itu, ada jin yang muslim dan ada jin yang kafir. Ada jin yang baik dan ada jin yang jahat. Ada jin yang pintar masalah agama dan ada jin yang bodoh. Bahkan ada jin Ahlussunnah dan ada jin pengikut kelompok sesat, dst.
Sedangkan perbedaan jin dengan mansuia yang paling mendasar adalah dari asal penciptaan dan kemampuan bisa kelihatan dan tidak.
Dinamakan jin, karena memiliki sifat ijtinan (Arab: اجتنان), yang artinya tersembunyi dan tidak kelihatan. Manusia tidak bisa melihat jin dan jin bisa melihat manusia. Allah berfirman,
إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ
“Sesungguhnya ia (iblis) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu di suatu keadaan yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al-A’raf: 27)
B. Setan
Kata syaithan, dalam bahasa Arab berasal dari kata syathona yang berarti ba’uda (jauh, yakni yang selalu menjauhkan manusia dari kebenaran). Kemudian kata syaithan ini digunakan untuk setiap mahluk berakal yang durhaka dan membangkang (kullu ‘aat wa mutamarrid).
Setan adalah sifat untuk menyebut setiap makhluk yang jahat, membangkang, tidak taat, suka membelot, suka maksiat, suka melawan aturan, atau semacamnya.
Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar mengatakan,
الشيطان في لغة العرب يطلق على كل عاد متمرد
“Setan dalam bahasa Arab digunakan untuk menyebut setiap makhluk yang menentang dan membangkang.” (Alamul Jinni was Syayathin, Hal. 16).
C. Iblis
Adapun Iblis terambil dari kata al-balas yang berarti orang yang tidak mempunyai kebaikan sedikitpun (man la khaira ‘indah), atau terambil dari kata ablasa yang berarti putus asa dan bingung (yaisa wa tahayyara).
Disebut iblis (putus asa) karena mereka merasa putus asa dengan rahmat Allah, juga disebut iblis lantaran mereka tidak pernah berbuat kebaikan sedikitpun. Menurut satu riwayat, dahulunya iblis ini bernama Naail, akan tetapi sejak ia membangkang dan menolak perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam, ia dirubah nama menjadi syaithan.
Iblis adalah nama salah satu jin yang menjadi gembongnya para pembangkang. Dalil bahwa iblis dari golongan jin adalah firman Allah,
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ
“Ingatlah ketika Kami berkata kepada para malaikat, ‘Sujudlah kallian kepada Adam!’ maka mereka semua-pun sujud kecuali Iblis. Dia dari golongan jin dan membangkang dari perintah Allah.” (QS. Al-Kahfi: 50)
Iblis juga memiliki keturunan, sebagaimana umumnya jin lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ
“Iblis itu dari golongan jin, dan dia membangkang terhadap perintah Rab-nya. Akankah kalian menjadikan dia dan keturunannya sebagai kekasih selain Aku, padahal mereka adalah musuh bagi kalian…” (QS. Al-Kahfi: 50)
D. PERBEDAAN JIN, SETAN DAN IBLIS
Tidak semua jin adalah Setan (syaitan). Karena, jin juga ada yang shaleh, ada yang mukmin. Jadi setan hanyalah ditujukkan untuk jin yang membangkang (kafir, munafik, musyrik dst). Demikian juga tidak semua setan adalah jin. Karena dalam surat an-Nas ditegaskan, bahwa setan juga ada dari golongan manusia. Setiap manusia yang membangkang, durhaka dan selalu menjauhkan manusia lainnya dari petunjuk Allah, mereka dinamakan syaithan.
Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang shaleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.(al-Jin 72:11)
Dilihat dari struktur kalimat, atau dalam tinjauan kaidah sharfiyah, setan (syaitan) merupakan bentuk kalimat isim ‘alam (nama sesuatu) dia adalah laqab (gelar) yang diberikan Allah kepada setiap mahluk yang berakal (jin dan manusia) yang membangkang terhadap perintah Allah. Oleh karenanya penyebutan syaitan (setan) dapat dikenakan kepada jin dan manusia sebagaimana tersurat dalam ayat-ayat diatas.
Merujuk kepada kisah Adam dan Iblis dari ayat 12-20 surat al-‘Araf, gelar setan diberikan Allah untuk pertama kalinya kepada Iblis tatkala dia menyatakan alasan penolakan untuk sujud kepada Adam. Dan pada surat Thaha 20:117 , Allah memberi peringatan kepada Adam bahwa mahluk yang terkutuk itu akan menjadi musuh Adam dan Istrinya. Dan pada surat Yasin 36:60 , Allah menegaskan kembali gelar setan diberikan kepada musuh Adam tersebut dan dijadikan peringatan bagi anak cucu Adam. Berikut runtut ayat-ayat dimaksud yang artinya;
1. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya”. (Dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang dzalim”. Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)”. (Al-‘Araf 7:12-20)
2. Maka kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka.(Thaha 20:117)
3. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”, (Yasin 36: 60)
Kesimpulan : Jin yang ingkar kepada allah dinamakan setan, sedangkan makhluk yang pertama kali disebut setan adalah iblis, dengan kata lain : iblis itu makhluknya sedangkan setan adalah sifatnya.
Surat Al Kafirun
Surah Al-Kafirun (Bahasa Arab: سورة الْكَافِرُون,Al-Kāfirun, "Orang-orang Kafir") adalah surah ke-109 berdasarkan susunan mushaf dan surah ke-18 sesuai urutan pewahyuan Al-Quran. Surah ini dinamai Al-Kafirun lantaran diturunkan berkaitan dengan orang-orang kafir dan menjadi obyek seruan pada awal surah ini. Surah Al-Kafirun merupakan salah satu surah Makkiyah yang berisikan perintah kepada Rasulullah Saw untuk berkata tegas kepada orang-orang kafir bahwa dalam urusan agama dan ibadahnya untuk bersikap kukuh dan tidak berkompromi dengan mereka dalam urusan ini.
Identitas Surah Al-Kafirun
Dari sisi isi, surah Al-Kafirun termasuk salah satu surah Al-Qishar Al-Mufashshalat dan menjadi salah satu bagian dari surah-surah juz ammah pada hizb ke-4 juz 30 Al-Quran. Surah ini adalah surah ke-11 dan surah terakhir yang bernada seruan (neda) dan mukhtabat (obyek bicara). Demikian juga surah ke-2 yang dimulai dengan kata "قُل" "Katakanlah." Surah ini dan tiga surah lainnya (Al-Ikhlash, Al-Nas dan Al-Falaq) disebut sebagai empat qul. Surah Al-Kafirun mencakup upaya untuk menuntaskan hujjah kepada orang-orang kafir dan tiadanya kompromi, sinkretisme, campur aduk antara ajaran tauhid dan syirik serta penyembahan berhala. [1]
Kondisi Pewahyuan (Sya'n Al-Nuzul)
Para ahli tafsir (di antaranya Thabari, Thusi, Maibadi, Zamaksyari, Thabari dan Abul Futuh) terkait dengan kondisi pewahyuan atau sebab-sebab turunya surah ini menulis bahwa sebagian dari pembesar Quraisy yang merupakan para pemimpin kekafiran dan kesesatan, di antaranya Walid bin Mughirah, Ash bin Wail, Umayah bin Khalaf, Aswad bin Abdul Muthhalib, dan Harits bin Qais datang ke hadapan Rasulullah Saw dan mengusulkan untuk berkomporomi dan berdamai di antara dua belah pihak. Mereka berkata, "Selama beberapa waktu (setahun) engkau mengikuti agama kami, sembahlah berhala dan tuhan-tuhan kami. Dan sebaliknya selama beberapa lama (setahun) kami akan mengikuti agamamu dan menyembah Tuhanmu." Nabi Muhammad Saw menolak dengan tegas tawaran ini dan kemudian turunlah surah ini. [2]
Beberapa Poin Tafsir
Allamah Thabathabai dalam memberikan penafsiran ayat keenam surah Al-Kafirun ini menulis, "Ayat ini sesuai dengan maknanya menegaskan persoalan yang disebutkan sebelumnya. Yaitu bahwa Rasulullah Saw tidak bersama dengan orang-orang musyrik. Lam dalam lakum dan dalam li adalah lam khusus; artinya adalah agama kalian yaitu penyembahan berhala adalah terkhusus untuk kalian sendiri dan tidak akan menciderai (agama) saya dan agama saya khusus untuk saya dan tidak akan mencakup kalian." [3] Di sini boleh jadi terlintas anggapan dalam benak seseorang bahwa ayat ini berisikan pesan bahwa manusia bebas dalam memilih agama. Setiap orang sesuai dengan pilihannya masing-masing dapat memilih agama syirik dan sebaliknya dengan pilihannya memilih agama tauhid; atau terlintas penilaian dalam benak seseorang bahwa ayat ini menginstruksikan kepada Rasulullah Saw untuk tidak mengurusi agama orang-orang musyrik. Adapun pemaknaan kami (Allamah Thabathabai) atas ayat ini akan menghilangkan anggapan dan penilaian seperti ini, karena kami katakan bahwa ayat ini menyatakan kalian tidak akan mengikuti agamaku dan saya juga tidak akan mengikuti agamamu; pada dasarnya merupakan ajakan kepada kebenaran yang menjadi tugas Al-Quran melenyapkan anggapan seperti ini. [4] Sebagian ahli tafsir untuk menghilangkan anggapan ini berkata, "Kata din yang disebutkan pada ayat tidak bermakna agama dan ajaran, melainkan bermakna jaza (ganjaran) artinya ganjaran kalian untuk kalian dan ganjaran saya untuk saya. [5] Sebagian lainnya berkata, "Pada ayat ini terdapat mudhaf yang telah terhapus dan secara implisit menyatakan demikian, "«لكم جزاء دينكم ولى جزاء دينى» bagi kalian pahala agama kalian dan bagi saya pahala agama saya. Namun penafsiran seperti ini tidak dapat diterima.[6]
Nama-nama Surah Al-Kafirun
Al-Kafirun: Surah ini dinamai Al-Kafirun lantaran diturunkan berkaitan dengan orang-orang kafir dan menjadi obyek seruan pada awal surah ini.Al-Jahd (Ingkar): Karena surah ini berbicara tentang orang-orang yang mengingkari agama Allah Swt.Al-Ibadah: Lantaran kata ini (dengan derivasi yang beragam) disebutkan sebanyak 8 kali dalam surah ini.Al-Musyaqsyaqah: Disebut Al-Musyaqsyaqahkarena bermakna penyuci dan penjauh nifak, syirik dan kesesatan. Surah ini dengan tegas dan tandas menolak penyembahan berhala dan selain Tuhan di samping itu menjauhkan dan menyucikan manusia dari syirik dan kemunafikan.
Rabu, 26 Juli 2017
Siklus anak baik dan nakal
KUNCI ANAK SHOLEH BERSUMBER DARI KERIDHOAN ORANGTUA
*Bagaimana cara memutus siklus Anak Nakal ?*
Saat ngopi bareng mas Dodik Mariyanto di teras belakang rumah, iseng-iseng saya buka obrolan dengan satu kalimat tanya
"Mengapa anak baik biasanya semakin baik, dan anak nakal biasanya semakin nakal ya mas?"
Mas Dodik Mariyanto mengambil kertas dan spidol, kemudian membuat beberapa lingkaran-lingkaran.
"Wah suka banget, bakalan jadi obrolan berbobot nih", pikir saya ketika melihat kertas dan spidol di tangan mas Dodik.
Mas Dodik mulai menuliskan satu hadist:
*رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِد*ِ
_*“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua”*_
Artinya setiap anak yang baik, pasti membuat ridho orangtuanya, hal ini akan membuat Allah Ridho juga.
Tapi setiap anak nakal, pasti membuat orangtuanya murka, dan itu akan membuat Allah murka juga.
"Kamu pikirkan implikasi berikutnya dan cari literatur yang ada untuk membuat sebuah pola", tantang mas Dodik ke saya.
Waaah pak Dosen mulai menantang anak baik ya, suka saya.
Setelah membolak balik berbagai literatur yang ada, akhirnya saya menemukan satu tulisan menarik yang ditulis oleh kakak kelas mas Dodik, yaitu mas Dr. Agus Purwanto DSc
. disana beliau menuliskan bahwa anak nakal dan anak baik itu bergantung pada ridho dan murka orangtuanya.
Akhirnya kami berdua mengolahnya kembali, membuatnya menjadi siklus anak baik (lihat gambar siklus 1) dan siklus anak nakal ( lihat siklus 2)
Siklus Anak Baik ( siklus 1)
_*Anak Baik -> orangtua Ridho -> Allah Ridho -> keluarga berkah -> bahagia -> anak makin baik*_
Siklus Anak nakal ( siklus 2)
_*Anak Nakal -> orangtua murka -> Allah Murka -> keluarga tidak berkah -> tidak bahagia -> anak makin nakal*_
Kalau tidak ada yang memutus siklus tersebut, maka akan terjadi pola anak baik akan semakin baik, anak nakal akan semakin nakal.
*Bagaimana cara memutus siklus Anak Nakal ?* ternyata kuncinya bukan pada anak melainkan pada ORANGTUANYA.
Anak Nakal -> *ORANGTUA RIDHO* ->Allah Ridho -> keluarga berkah -> bahagia -> anak jadi baik.
Berat? iya, maka nilai kemuliaannya sangat tinggi. *Bagaimana caranya kita sebagai orangtua/guru bisa ridho ketika anak kita nakal?*
ini kuncinya:
*َإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ“*
*Bila kalian memaafkannya...menemuinya dan melupakan kesalahannya...maka ketahuilah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 64:14).*
*Caranya* orangtua ridho adalah menerima anak tersebut, memaafkan dan mengajaknya dialog, rangkul dengan sepenuh hati, terakhir lupakan kesalahannya.
Kemudian sebagai pengingat selanjutnya, kami menguncinya dengan pesan dari Umar bin Khattab:
_*Jika kalian melihat anakmu/anak didik mu berbuat baik, maka puji dan catatlah, apabila anakmu/anak didikmu berbuat buruk, tegur dan jangan pernah engkau mencatatnya.*_
*Umar Bin Khattab*
saya dapat do'a seperti ini, artinya:
_*"Ya Allah, aku bersaksi bahwa aku ridho kepada anakku (dg menyebutkan nama anak) dg ridho yang paripurna, ridho yg sempurna dan ridho yg paling komplit. Maka turunkanlah ya Allah keridhoan-Mu kepadanya demi ridhoku kepadanya."*_
💞💞💞💞💞💞💞💞💞
_*Tidak ada anak nakal, yang ada hanyalah anak belum tau.*_
_*Tidak ada anak nakal, yang ada hanyalah orang tua yang tak sabar.*_
_*Tak ada anak nakal, yang ada hanyalah pendidik yang terburu-buru melihat hasil.*_
💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Semoga bermanfa'at
Barakallahu fiikum...
*yg pnya anak/cucu, monggo di baca n praktekin..*
Sabtu, 22 Juli 2017
10 Keutamaan Hari Jum’at
- Imam Al-tirmidzi menyifatinya sebagai Hadist Gharib dan terputus sanadnya.
- Al=hafidz Ibnu Hajar menyatakan sebagai Hadist Yang Dhaif Sanadnya
- Syeikh Ahkam Dalam Kitab Janaiz (hal.49-50) menyatakan Hadist tersebut hadist hasan atau shahih dengan di kumpulkan dari semua jalurnya
Entri yang Diunggulkan
Generasi Rawan Lupa, Servis dalam Rumah Tangga
10 Hal Romantis Rasulullah yang Ditinggalkan Generasi Now Rumah tangga Rasulullah SAW luar biasa. Rasulullah SAW dan istri-istriny...
-
RASA UNTUK TANIA Bagian 1 Perempuan yang sudah lama kusukai bernama Tania, ia adalah teman kuliahku. Orangnya ramah, sangat enerjik...
-
Merdeka.com - Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ahmad Ishomuddin menyoroti hasil survei yang dirilis Indikator yang kon...
-
Hampir sebulan dibentuk, Satgas Saber Pungli terima 10.520 aduan Konpers Satgas Saber Pungli. ©2016 Merdeka.com/Rizky Andwika ...






