Rabu, 04 Januari 2017

OJO BENGOK-2 TOK, PENTING BUKTINE CAK!!!




DISEBUT BERILMU KARENA MENGAMALKAN ILMUNYA (BUKAN JAGO TEORI DAN KOAR-KOAR SAJA)


Tema ini kami angkat sebagai intropeksi terhadap diri kami pribadi, betapa banyak ilmu yang sudah kami ketahui akan tetapi tidak pernah/jarang kami amalkan.
Entah, tidak tahu apa yang membuat kami terkadang semangat menuntut ilmu apakah pujian manusia atau keikhlasan mencari wajah Allah, pujian manusia yang terkadang membuat kita tertipu :

“masyaAllah ilmu usatdz memberikan pencerahan”

“luar biasa tulisannya ustadz”

“ilmunya luas dan cerdas”

“ustadznya rajin baca dan semangat”

Akan tetapi kami berharap semoga Allah selalu meluruskan niat kami dan kita semua dalam beribadah dan berdakwah di jalan-Nya.

Kita tidak berharap semoga setiap tulisan tentang ilmu dan yang kami tulis, kamilah yang pertama mempraktekkanya.

Kami berharap setiap status nasehat yang kami upload, kamilah yang pertama melakukannya.

Kami berharap setiap petikan faidah yang kami petik, kamilah yang pertama menerapkannya.

Disebut berilmu jika mengamalkannya

Sahabat Abu Dar’da radhiallahu anhu berkata,

لا تكون عالماً حتى تكون متعالماً ، ولا تكون بالعلم عالماً حتى تتكون به عاملاً

“Tidaklah seorang berilmu sampai ia belajar (sebelumnya), tidaklah seorang berilmu terhadap suatu ilmu sampai ia mengamalkannya.”[1]

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,

لا يزال العالم جاهلاً بما علم حتى يعمل به ، فإذا عمل به كان عالماً

“Seorang ‘Alim (berilmu) itu masih dianggap Jaahil (bodoh) apabila dia belum beramal dengan ilmunya.
Apabila dia sudah mengamalkan ilmunya maka jadilah dia seorang yang benar-benar ‘Alim (berilmu).”[2]

Berusaha mengamalkan ilmu
Imam Ahmad rahimahullah berkata,

ما كتبت حديثا إلا وقد عملت به حتى مر بي أن النبي

صلى الله عليه وسلم ) احتجم وأعطى أبا طيبه دينارا فأعطيت الحجام دينارا حين احتجمت

“Tidak pernah aku menulis sebuah hadits pun kecuali aku akan berusaha mengamalkan hadits tersebut.
Hingga pada suatu ketika, sampai kepadaku sebuah hadits yang menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbekam dan memberi upah kepada Abu Thayyibah (tukang bekam) sebanyak satu dinar, maka aku pun memberikan upah satu dinar kepada tukang bekam setiap kali aku berbekam.”[3]

Asy-Sya’bi rahimahullah berkata,

كنا نستعين علي حفظ الحديث بالعمل به ، وكنا نستعين على طلبه بالصوم

“Kami berusaha menghapal hadits dengan mengamalkannya dan kami berusaha menuntut ilmu dengan bantuan berpuasa.”[4]

Oleh karena itu Allah Azza wa Jalla berfirman,

جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.”
[Al-Waqi’ah: 24]

Allah TIDAK berfirman,

جَزَاء بِمَا كَانُوا يعَلمُونَ

“Sebagai balasan apa yang telah mereka ketahui.”

Kemurkaan Allah jika sekedar teori dan tidak mengamalkan ilmu

ِAllah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman!
Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan.
Hal (itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (sh-Shaff: 3)

Demikian juga Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam sahihnya, beliau berkata,

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قِيلَ لِأُسَامَةَ لَوْ أَتَيْتَ فُلَانًا فَكَلَّمْتَهُ قَالَ إِنَّكُمْ لَتُرَوْنَ أَنِّي لَا أُكَلِّمُهُ إِلَّا أُسْمِعُكُمْ إِنِّي أُكَلِّمُهُ فِي السِّرِّ دُونَ أَنْ أَفْتَحَ بَابًا لَا أَكُونُ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ وَلَا أَقُولُ لِرَجُلٍ أَنْ كَانَ عَلَيَّ أَمِيرًا إِنَّهُ خَيْرُ النَّاسِ بَعْدَ شَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا وَمَا سَمِعْتَهُ يَقُولُ قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ أَيْ فُلَانُ مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنْ الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ وَأَنْهَاكُمْ عَنْ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ رَوَاهُ غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ

Ali menuturkan kepada kami, Sufyan menuturkan kepada kami dari al-A’masy dari Abu Wa’il dia berkata;ada orang yang berkata kepada Usamah, “Seandainya saja engkau mau mendatangi si fulan dan berbicara menasihatinya.”
Maka dia menjawab, “Apakah menurut kalian aku tidak berbicara dengannya melainkan aku harus menceritakannya kepada kalian.
Aku sudah menasihatinya secara rahasia.
Aku tidak ingin membuka pintu yang menjadikan aku sebagai orang pertama yang membuka pintu fitnah itu -menasihati penguasa dengan terang-terangan-.
Aku pun tidak akan mengatakan kepada seseorang sebagai orang yang terbaik -walaupun dia adalah pemimpinku- setelah aku mendengar sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Mereka bertanya, “Apa yang kamu dengar dari beliau itu?”.
Dia menjawab; Aku mendengar beliau bersabda, “Akan didatangkan seorang lelaki pada hari kiamat kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka danterburailah isi perutnya di neraka sebagaimana seekor keledai yang berputar mengelilingi penggilingan.
Maka berkumpullah para penduduk neraka di sekitarnya.
Mereka bertanya, “Wahai fulan, apa yang terjadi padamu, bukankah dahulu kamu memerintahkan yang ma’ruf kepada kami dan melarang kami dari kemungkaran?”.
Lelaki itu menjawab, “Dahulu aku memerintahkan kalian mengerjakan yang ma’ruf sedangkan aku tidak melakukannya.
Dan aku melarang kalian dari kemungkaran namun aku justru melakukannya.” [5]

 Ilmu akan ditanya dan dipertanggung jawabkan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

“Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan; tentang ilmunya, apa yang dia amalkan; tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan pada perkara apa dia infakkan (belanjakan); serta tentang badannya, pada perkara apa dia gunakan.”[6]

Beliau juga besabda,

القُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

“Al-Quran akan menjadi hujjah (yang akan membela) engkau atau akan menjadi bumerang yang akan menyerangmu. “[7]

Semoga kita selalu bisa mengamalkan ilmu kita

Dengan senantiasa berdoa (terutama sebelum salam shalat) agar kita selalu mendapat bantuan dari Allah agar kita bisa beribadah kepada-Nya.

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik.
[Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir pada-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu].”[8]

Semoga kita segera sadar bahwa ilmu yang tidak kita amalkan ternyata menunjukkan bahwa niat kita menuntut ilmu tidak benar, bisa jadi pujian dan sanjungan manusia saja.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

كُلُّ عِلْمٍ وَعَمَلٍ لاَ يَزِيْدُ الإِيمَانَ واليَقِيْنَ قُوَّةً فَمَدْخُوْلٌ، وَكُلُّ إِيمَانٍ لاَ يَبْعَثُ عَلَى الْعَمَلِ فَمَدْخُوْلٌ

“Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kekuatan dalam keimanan dan keyakinan maka telah termasuki (terkontaminasi niat ikhlasnya, pent), dan setiap iman yang tidak mendorong untuk beramal maka telah termasuki (tercoreng).”[9]


Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walamdulillahi robbil ‘alamin.


@ Pogung Lor-Jogja, 29 Jumadil Awwal 1434 H

penyusun : dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com


[1] Awa’iqut Thalab hal. 5, syamilah

[2] ‘Awa’iqut Thalab hal. 6, syamilah

[3]  Siyar A’laamun Nubala’ 9/213

[4]  ‘Awa’iqut Thalab hal. 6, syamilah

[5] HR. Bukhari no. 3027

[6]  HR. At-Tirmidzi dan beliau katakan, “Hadits hasan sahih.” Lihat Silsilah ash-Shahihah 2/666

[7] HR Muslim no 223

[8]  HR. Abu Daud no. 1522. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih

[9]  Al Fawaid hal. 86

Menjenguk Orang Sakit


Adab Menjenguk Orang Sakit

Hal yang perlu diperhatikan dalam menjenguk orang sakit adalah memberikan kesenangan di hati orang yang sedang sakit, menyuguhkan apa yang dia perlukan, dan menasehati tentang derita yang ia alam
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menjenguk orang yang sedang sakit, dia senantiasa berada pada khurfah (kebun) di surga, hingga dia kembali ke rumahnya.” (Diriwayatkan Muslim, Ahmad, dan At-Tirmidzi).
Hal yang perlu diperhatikan dalam menjenguk orang sakit adalah memberikan kesenangan di hati orang yang sedang sakit, menyuguhkan apa yang dia perlukan, dan menasehati tentang derita yang ia alami. Anak kecil bila sakit juga harus dijenguk sebagaimana orang dewasa. Karena alasan mengapa menjenguk orang dewasa yang sakit juga ada pada anak kecil, seperti mendoakannya, meringankan penyakitnya dan merukyahnya dengan rukyah syar’iyyah.
Wanita dibolehkan menjenguk laki-laki yang sedang sakit meskipun mereka bukan mahramnya. Akan tetapi, dengan beberapa syarat seperti aman dari fitnah, menutup aurat, dan tidak bercampur-baur antara laki-laki dan perempuan. Jika syarat ini terpenuhi, maka seorang wanita dibolehkan menjenguk laki-laki yang bukan mahramnya atau sebaliknya, laki-laki menjenguk wanita.
Banyak yang merasa enggan menjenguk orang sakit yang tidak sadarkan diri, seperti pingsan berulang kali atau mereka yang sedang koma. Dengan beranggapan bahwa mereka tidak tahu keberadaan orang yang menjenguk dan tidak merasakannya. Ibnu Hajar berkata, “Hanya sebatas mengetahui antara orang yang sakit terhadap orang-orang yang menjenguknya bukan berarti syariat menjenguk itu tidak usah dilaksanakan. Karena di balik itu keluarganya akan mengetahuinya. Dan diharapkan keberkahan doa orang yang menjenguknya, dia memegang orang yang sakit, mengusap tubuhnya, dan meniupnya dengan dibacakan Al-Mu’awwidzat, dan lain-lain.”
Bagaimana dengan menjenguk orang kafir? Sebagian ulama memakruhkan menjenguk orang kafir, karena menjenguk orang yang sakit adalah memuliakannya. Dan sebagian ulama membolehkannya apabila dengan bersikap seperti itu dia akan masuk Islam.
Berkaitan dengan waktu menjenguk orang sakit, kapan saja dibolehkan baik siang atau malam selama tidak mengganggu orang yang sedang sakit. Karena diantara tujuan menjenguk adalah meringankan beban orang yang sedang sakit dan menenangkan hatinya, bukan malah memberatkannya. Maka waktu harus dilihat sesuai dengan kebiasaan penduduk sekitar dan kapan saja mereka memilih waktu yang tepat untuk menjenguk dan berkunjung. Sebaiknya orang yang menjenguk jangan terlalu lama diam di sisi orang yang sedang sakit. Karena dia sedang sibuk dengan penyakitnya. Akan tetapi, perlu diketahui pula bahwasanya orang yang sedang sakit jika menyukai ditemani oleh orang yang menjenguknya dan suka ditengok berulang kali, maka sebaiknya orang yang menjenguk memenuhi keinginannya karena hal itu membuat hatinya senang.
Orang yang menjenguk dianjurkan duduk di dekat kepala orang yang sedang sakit. Ini adalah sunnah yang dilaksanakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang shalih setelah beliau. Karena duduknya orang yang menjenguk di dekat kepala orang yang sedang sakit memiliki beberapa faedah. Diantaranya: untuk mengakrabkan orang yang sedang sakit, memudahkan orang yang menjenguk untuk meletakkan tangannya pada orang yang sedang sakit, dan mendoakannya serta merukyahnya.
Diantara adab yang baik ketika menjenguk orang sakit adalah menanyakan keadaannya. Selain itu juga menyemangatinya seperti berkata, “Tidak apa-apa, kamu akan sembuh Insya Allah.”. Sebaiknya orang yang menjenguk orang yang sedang sakit tidak mengucapkan apa pun kecuali kata-kata yang baik, karena para malaikat mengamini ucapannya. Dianjurkan bagi orang yang menjenguk untuk mendoakan orang yang sedang sakit agar diberikan rahmat dan ampunan, pembersihan dari dosa dan keselamatan serta kesehatan. Doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diantaranya yaitu,
لا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّه
Tidak mengapa, semoga sakitmu menghapuskan dosa-dosamu insya AllahDan lain-lain.
Orang yang menjenguk orang yang sakit dianjurkan meletakkan tangannya pada tubuh orang yang sedang sakit, seperti tangan atau kening. Karena dengan demikian berpengaruh pada meringankan bebannya atau kemungkinan dapat menghilangkan penyakit secara total. Akan tetapi, tidak mungkin memastikan hal itu, karena tidak ada nash yang secara khusus menyatakannya.
Orang yang menjenguk orang sakit disunnahkan merukyah orang yang sakit, sebagaimana yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terlebih lagi jika yang menjenguk itu orang yang bertakwa dan orang yang shalih, karena rukyah mereka sangat bermanfaat disebabkan keshalihan dan ketakwaan mereka. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila ada anggota keluarganya yang menderita sakit beliau meniupnya (merukyahnya) dengan membaca Al Mu’awwidzat.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Malik). Al Hafiz Ibnu Hajar berkata, “Yang dimaksud dengan Al Mu’awwidzat adalah dua surat (Al Falaq dan An Nas) serta Al Ikhlas”.
Ketika ajal orang yang sakit itu sudah dekat dan tampak tanda-tanda kematian, maka yang menjenguknya dianjurkan mengingatkan kepada orang yang sakit itu betapa luasnya rahmat Allah Ta’ala, dan jangan pernah merasa berputus asa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Talqinkanlah orang yang akan mati dengan kalimat laa ilaaha illallaah (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah).” (Diriwayatkan Muslim, Ahmad, At Tirmidzi, An Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah). Imam An Nawawi berkata, “Perintah talqin ini adalah perintah sunnah, para ulama bersepakat atas talqin ini. Mereka memakruhkan bila terlalu banyak menalqin dan berturut-turut agar dia tidak merasa bosan dan keadaannya menjadi sempit serta menambah gundah, hingga membuat hatinya tidak suka, dan mengucapkan kata-kata yang tidak pantas,” Jika wafat, bagi yang hadir dianjurkan memejamkan matanya dan mendoakannya.
 عَنْ ثَوْبَانَ ، مَوْلَى رَسُوْلِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ  قَالَ: (( مَنْ عَادَ مَرِيْضًا ، لَمْ يَزَلْ فِيْ خُرْفَةِ
 الْجَنَّةِ )) قِيْلَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ! وَمَا خُرْفَةُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: (( جَنَاهَا )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 6554 ] .

Diriwayatkan dari Tsauban pembantu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- beliau bersabda: “Barangsiapa menjenguk orang sakit, maka ia senantiasa berada dalam khurfah surga. Dikatakan: Wahai Rasulullah, apakah khurfah surga itu? Beliau bersabda: “Tamannya yang penuh dengan beraneka macam buah-buahan.” (HR. Muslim).

Referensi : Ringkasan Kitab Adab, Fuad bin Abdul ‘Aziz Asy-Syalhub


*Weling Pituturing Pinisepuh* kangge miwiti warsa enggal....



Nggèr anakku...
Sawangen kaé dagelan jagat...
Sing lagi rebutan ndonya lan pangkat
Rumangsané wis paling kuat kinurmat..
Nganti lali yèn ndonya iki bakalé kiamat..

Nggèr anakku..
Sawangen kaé dagelan jagat
Padha lali ngrumat wasiat
Gaman aji kanggo ndonya akhirat

Nggèr anakku...
Sing kok sawang kaé ojo ditiru
Rungokno lan élinga marang pesenku
Kanggo gondèlan laku uripmu

Nggèr anakku...
Ayu-bagusmu dudu saka wedak pupur kang gampang luntur...
Ning soko resiké atimu kang ngugemi pitutur luhur..
Sugihmu dudu emas picis raja brana sing gampang sirna..
Ananging jembaring atimu sing koyo segara..
Kang biso nampa pesthining Gusti Allah kang Maha Kuwoso.

Nggèr.. anakku,
Eling di eling²
Ojo nganti teteging imanmu nggoling
Sekarat pati bakal banget larané
Yèn rikala jaman uripé
Akeh dosané, lali marang tobaté
Pramula ayo pada éling selawasé
Dimèn pada becik nganti ing wekasané

Wilujeng enjing sederek, wilujeng warso enggal masehi 2017 sederek2 Sedaya
Sumonggo kito sami reresik manah kito
kadamel ngawiti warso enggal kanthi manah ingkang tentrem ayem nir ing sambikolo
Gusti Allah mberkahi kito sedoyo, mugi ing warso puniko kt tansah pinaringan rahayu wilujeng soho berkah ingkang kathah,    amin x3  YRA..

Minggu, 01 Januari 2017

5 SEBELUM 5


Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasul ﷺ menasehati seseorang dan beliau bersabda:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara

(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,

(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,

(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,

(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,

(5) Hidupmu sebelum datang matimu.

[HR Al-Hakim dalam Mustadrak dengan sanad yang shahih]


Catatan
 Mengapa orang-orang menunggu pergantian tahun? Mereka begitu gembira menyambut kedatangan bulan januari, Hingga mereka serentak menghitung mundur 10-9-8 hingga hitungan 1 lalu mereka bersorak sorai, berpelukan, menjerit kegirangan, berjingkrak-jingkrak dibawah pancaran dan dentuman kembang api, seraya sama-sama meniup terompet telolet… telolet… tanpa tahu maksud dari apa yang dilakukan.  Ada apa dengan tahun baru?



Akankah ini yang dikehendaki Nabi ﷺ dengan sabda-Nya:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal,sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk (mengikuti) ke dalamnya. Mereka (para sahabat) bertanya:

Wahai Rasulullah, apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrani.?

Lalu beliau berkata, Siapa lagi kalau bukan mereka”. [HR Bukhari]



Ada pula di antara mereka yang bikin ” make a wish” saat jam 00.00 tepat waktu setempat, padahal tidak pernah ada yang mengajari bahwa saat itu adalah waktu mustajabah. Ada juga yang menuliskan harapan atau mimpi (resolusi) yang akan mereka lakukan di tahun mendatang dan melepaskan balon berharap semua mimpinya akan terwujud. Ada apa dengan tahun baru?



Akankah mereka melakukan sesuatu yang tidak mereka ketahui maksudnya yang mana hal ini dilarang oleh Allah SWT. Dalam firman-Nya

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. [QS Al-Isra: 36]



Tahukah mereka alvers, Januari itu? Menurut sejarah, ternyata  januari adalah nama dewa yaitu Dewa Janus yang mana dalam mitologi Romawi Kuno, dikenal seorang dewa berwajah dua. Lantas, Satu menghadap ke depan dan satunya ke belakang. Untuk menentukan mana yang depan atau belakang, ditandai dengan wajah yang menghadap depan selalu tersenyum dan optimis, sedangkan yang menghadap ke belakang selalu terlihat muram dan sedih. [Wikipedia]



Rupanya dari sinilah ketika pergantian tahun orang-orang membuat resolusi, pengharapan yang didapatkan dari dualisme masa yaitu masa lampau, dan masa mendatang yang diambil dari dua wajah sang dewa. Lalu, akankah kita bangga ajaran primitif ini dan kita meniru apa-apa yang dahulu mereka lakukan? Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” [HR Abu Dawud]



Al-Munawi berkata: “Maksudnya menyerupai mereka dalam penampilannya dengan memakai pakaian seperti pakaian mereka, mengikuti cara jalan, tata cara dalam pakaian dan sebagian prilaku mereka.” [Aunul Ma’bud]



Marilah alvers kita jauhi tradisi peringatan tahun baru seperti yang mereka lakukan. Sebaliknya marilah kita berhuhasabah, bukankah dengan tahun baru jatah kehidupan kita semakin berkurang dan itu artinya kita semakin dekat dengan kematian? Bukankah masih minim sekali bekal kita untuk menghadapi kematian?



Betapa tidak minim, marilah kita hitung bersama. Jikalau kita sholat setiap waktu menghabiskan kurang lebih 10 menit dan kita lakukan sebanyak lima kali sehari maka setiap hari kita membutuhkan waktu 50 menit setiap harinya. 1.500 menit dalam sebulan dan 18.000 menit dalam setahun atau setara 300 jam dan itu artinya 12.5 Hari dalam setahun (365 Hari). Jika rata-rata umur manusia adalah 65 Tahun maka waktu yang digunakan shalat adalah 27 Bulan atau 2.25 Tahun saja. Itupun kalau sholatnya tidak bolong-bolong. MasyaAllah. Akankah kita puas dan telah menganggap cukup bahkan banyak dengan hanya memberikan 2 tahun kepada Allah dari 65 tahun yang dianugerahkan kepada kita?. Bukankah Allah memerintah kita untuk terus memperhatikan bekal untuk hari esok (akhirat), Allah berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [al-Hasyr :18]



Di momen akhir tahun, setiap perusahaan sibuk membuat laporan tutup Buku sebagai bahan evaluasi untuk mengetahui seperti apa kinerja keuangan sebuah perusahaan, apakah mengalami kenaikan atau malah sebaliknya mengalami penurunan. Maka seperti itu pula kita, mari lakukan evaluasi diri apakah kita termasuk orang-orang yang beruntung ataukah merugi seperti kebanyakan manusia. Bukankah Allah SWT telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya :

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Demi masa, sesungguhnya manusia pasti dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran. [QS Al-Ashr : 1-3]



Selanjutnya marilah kita membuat neraca amal kita, kemarin, hari ini dan besok supaya kita dapat menentukan hasil amalan kita. Nabi berwasiat dalam mimpi Abdul Aziz bin rawwah :

من استوى يوماه فهو مغبون ومن كان يومه شرا من أمسه فهو ملعون

Barang siapa yang kedua harinya (Hari ini dan kemaren) sama maka ia adalah orang yang rugi dan barang siapa yang harinya (ini) lebih jelek dari pada kemaren maka ia terlaknat. [Tadzkiratul Mawdlu’at]

 Lantas, Sudahkah anda mengitungnya? Kalau belum silahkan simak perkataan Hasan Bin Ali RA :

ومن لم يتفقد النقصان عن نفسه فإنه في نقصان، ومن كان في نقصان فالموت خير له

dan barang siapa yang tidak memeriksa kekurangan pada dirinya maka ia berada dalam kekurangan dan barang siapa yang dirinya berada pada kekurangan maka mati lebih baik baginya. [Kanzul Ummal]



Maka dari itu marilah kita jauhi kemaksiatan dan kita isi hidup kita dengan kajian ilmu dalam setiap harinya walaupaun hanya dengan kajian odoh ini. Imam Syafii RA berkata dalam Syairnya :

حياة الفتى – والله – بالعلم والتقى :: إذا لم يكونا لا اعتبار لذاته

Hidupnya seorang pemuda – demi Allah – adalah dengan mencari ilmu dan ketaqwaan, bila keduanya tiada, maka tiada guna keberadaannya [Ta’limul Muta’allim] Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk semangat mencari ilmu dan ketakwaan serta menjauhi kemaksiatan.

KISAH NYATA MENGGUGAH JIWA

FOTO ILUSTRASI


Ini tulisan Ary Ginanjar Agustian
(Renungan Kisah Nyata)

Minggu lalu saya kembali Jum’atan di Graha CIMB Niaga Jalan Sudirman setelah lama sekali nggak sholat Jum’at di situ. Sehabis meeting dengan salah satu calon investor di lantai 27, saya buru2 turun ke masjid karena takut terlambat.

Dan bener aja sampai di masjid adzan sudah berkumandang. Karena terlambat saya jadi tidak tau siapa nama Khotibnya saat itu. Sambil mendengarkan khotbah saya melihat Sang Khotib dari layar lebar yg di pasang di luar ruangan utama masjid.

Khotibnya masih muda, tampan, berjenggot namun penampilannya bersih Dari wajahnya saya melihat aura kecerdasan, tutur katanya lembut namun tegas. Dari penampilannya yg menarik tsb, saya jadi penasaran, apa kira2 isi khotbahnya.

Ternyata betul dugaan saya! Isi ceramah dan cara menyampaikannya membuat jamaah larut dalam keharuan. Banyak yg mengucurkan air mata (termasuk saya)., bahkan ada yg sampai tersedu sedan.

Dengan gaya yg menarik Sang Khotib menceritakan “true story”.

Seorang anak berumur 10 th namanya Umar. Dia anak pengusaha sukses yg kaya raya. Oleh ayahnya si Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta. Tentu bisa ditebak, bayarannya sangat mahal. Tapi bagi si pengusaha, tentu bukan masalah, karena uangnya berlimpah.

Si ayah berfikir kalau anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang, agar anaknya kelak menjadi orang yg sukses mengikuti jejaknya.

Suatu hari isterinya kasih tau kalau Sabtu depan si ayah diundang menghadiri acara “Father’s Day” di sekolah Umar.

“Waduuuh saya sibuk ma, kamu aja deh yg datang.” begitu ucap si ayah kpd isterinya.

Bagi dia acara beginian sangat nggak penting, dibanding urusan bisnis besarnya. Tapi kali ini isterinya marah dan mengancam, sebab sudah kesekian kalinya si ayah nggak pernah mau datang ke acara anaknya. Dia malu karena anaknya selalu didampingi ibunya, sedang anak2 yg lain selalu didampingi ayahnya.

Nah karena diancam isterinya, akhirnya si ayah mau hadir meski agak ogah2an. Father’s day adalah acara yg dikemas khusus dimana anak2 saling unjuk kemampuan di depan ayah2nya.

Karena ayah si Umar ogah2an maka dia memilih duduk di paling belakang, sementara para ayah yg lain (terutama yg muda2) berebut duduk di depan agar bisa menyemangati anak2nya yg akan tampil di panggung.

Satu persatu anak2 menampilkan bakat dan kebolehannya masing2. Ada yg menyanyi, menari, membaca puisi, pantomim. Ada pula yg pamerkan lukisannya, dll. Semua mendapat applause yg gegap gempita dari ayah2 mereka.

Tibalah giliran si Umar dipanggil gurunya untuk menampilkan kebolehannya...

“Miss, bolehkah saya panggil pak Arief.” tanya si Umar kpd gurunya. Pak Arief adalah guru mengaji untuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah itu.

”Oh boleh..” begitu jawab gurunya.

Dan pak Ariefpun dipanggil ke panggung.“Pak Arief, bolehkah bapak membuka Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’)” begitu Umar minta kepada guru ngajinya.

”Tentu saja boleh nak..” jawab pak Arief.

“Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yg salah.”

Lalu si Umar mulai melantunkan QS An-Naba’ tanpa membaca mushafnya (hapalan) dengan lantunan irama yg persis seperti bacaan “Syaikh Sudais” (Imam Besar Masjidil Haram).

Semua hadirin diam terpaku mendengarkan bacaan si Umar yg mendayu-dayu, termasuk ayah si Umar yg duduk dibelakang.

”Stop, kamu telah selesai membaca ayat 1 s/d 5 dengan sempurna. Sekarang coba kamu baca ayat 9..” begitu kata pak Arief yg tiba2 memotong bacaan Umar.

Lalu Umarpun membaca ayat 9.

”Stop, coba sekarang baca ayat 21..lalu ayat 33..” setelah usai Umar membacanya…lalu kata pak Arief, "Sekarang kamu baca ayat 40 (ayat terakhir)”.

Si Umarpun membaca ayat ke 40 tsb sampai selesai."

“Subhanallah…kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna nak,” begitu teriak pak Arief sambil mengucurkan air matanya.

Para hadirin yg muslimpun tak kuasa menahan airmatanya. Lalu pak Arief bertanya kepada Umar, ”Kenapa kamu memilih menghafal Al-Qur’an dan membacakannya di acara ini nak, sementara teman2mu unjuk kebolehan yg lain?” begitu tanya pak Arief penasaran.

Begini pak guru, waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran bapak, Bapak menegur saya sambil menyampaikan sabda Rasulullah SAW, ”Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab, "Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (H.R. Al-Hakim).

“Pak guru, saya ingin mempersembahkan “Jubah Kemuliaan” kepada ibu dan ayah saya di hadapan Allah di akherat kelak, sebagai seorang anak yg berbakti kpd kedua orangnya..”

Semua orang terkesiap dan tdk bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 th tsb…

Ditengah suasana hening tsb..tiba2 terdengan teriakan “Allahu Akbar!” dari seseorang yg lari dari belakang menuju ke panggung.

Ternyata dia ayah si Umar, yg dengan ter-gopoh2 langsung menubruk sang anak, bersimpuh sambil memeluk kaki anaknya.

”Ampuun nak.. maafkan ayah yg selama ini tidak pernah memperhatikanmu, tdk pernah mendidikmu dengan ilmu agama, apalagi mengajarimu membaca Al Quran.” ucap sang ayah sambil menangis di kaki anaknya.

”Ayah menginginkan agar kamu sukses di dunia nak, ternyata kamu malah memikirkan “kemuliaan ayah” di akherat kelak. Ayah maluuu nak" ujar sang ayah sambil nangis ter-sedu2.

Subhanallah... Sampai di sini, saya melihat di layar Sang Khotib mengusap air matanya yg mulai jatuh. Semua jama’ahpun terpana, dan juga mulai meneteskan airmatanya, termasuk saya.

Diantara jama’ahpun bahkan ada yg tidak bisa menyembunyikan suara isak tangisnya, luar biasa haru. Entah apa yg ada dibenak jama’ah yg menangis itu. Mungkin ada yg merasa berdosa karena menelantarkan anaknya, mungkin merasa bersalah karena lalai mengajarkan agama kepada anaknya, mungkin menyesal krn tdk mengajari anaknya membaca Al Quran, atau merasa berdosa karena malas membaca Al-Qur’an yg hanya tergeletak di rak bukunya.

Dan semua, dengan alasan sibuk urusan dunia...!  Saya sendiri menangis karena merasa lalai dengan urusan akherat, dan lebih sibuk dengan urusan dunia, padahal saya tau kalau kehidupan akherat jauh lebih baik dan kekal dari pada kehidupan dunia yg remeh temeh, sendau gurau dan sangat singkat ini, seperti firman Allah SWT dalam

 Q.S. Al-Anam ayat 32:
”Dan tiadalah kehidupan DUNIA ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh KAMPUNG AKHIRAT itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”...

Astagfirullah... Innallaaha ghofururrohim, hamba mohon ampunan kepada Allah.Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Wallahu ‘alam bish shawab.

MENGEJAR GADIS



MENGEJAR GADIS

يحكى أن فتى قال لأبيه أريد الزواج من فتاة رأيتها

وقد أعجبني جمالها وسحر عيونها

Alkisah. Ada seorang anak lelaki berkata kepada ayahnya : "Ayah, saya ingin menikahi seorang gadis yg pernah saya lihat, dan saya suka kecantikan dan pesona matanya".

رد عليه وهو فرح ومسرور وقال أين هذه الفتاة حتى أخطبها لك يا بني

Ayahnya dengan gembira dan bahagia berkata : "Tinggal di mana gadis itu wahai anakku?  Biar nanti ayah yg menemanimu untuk melamarnya".

فلما ذهبا ورأى الأب هذه الفتاة أعجب بها وقال لابنه

Pergilah keduanya menemui gadis tersebut. Ketika si ayah melihat gadis itu, dia pun tertarik, dan berkata kepada anaknya:

اسمع يا بني هذه الفتاة ليست من مستواك! وأنت لا تصلح لها هذه يستاهلها رجل له خبرة في الحياة وتعتمد عليه مثلي

"Dengarlah anakku . . gadis ini bukan tarafmu, kamu tidak sesuai dengannya. Gadis ini sesuai dengan lelaki yang memiliki pengalaman hidup seperti aku"

اندهش الولد من كلام أبيه وقال له: كلا بل أنا سأتزوجها يا أبي وليس أنت

Terkejutlah si anak mendengar kata-kata ayahnya, dan berkata: "Tidak! Saya yang akan menikahinya, bukan ayah!"

تخاصما وذهبا لمركز الشرطة ليحلوا لهم المشكلة

Keduanya pun bertengkar, dan memutuskan pergi ke kantor polisi untuk menyelesaikan masalah.

عندما قصا للضابط قصتهما قال لهم: احضروا الفتاة لكي نسألها من تريد الولد أم الأب

Keduanya menceritakan masalah mereka kepada seorang polisi. Lalu, polisi itu berkata: "Bawakan gadis itu kesini, agar aku dpt bertanya kepadanya siapa yang akan dia ingini : si anak atau ayahnya".

ولما رآها الضابط وانبهر من حسنها وفتنتها

Ketika polisi melihat gadis itu, dia pun tertarik dengan sikap ramah dan pesonanya.

 وقال لهم: هذه لا تصلح لكما بل تصلح لشخص مرموق في البلد مثلي

Lalu polisi itu berkata: "Gadis ini tidak sesuai untuk kamu berdua,
dia sesuai untuk orang terkemuka di negeri ini, yaitu aku!"

وتخاصم الثلاثة وذهبوا الى الوزير

Ketiganya pun bertengkar. Lalu mereka pergi menghadap menteri.

عندما رآها الوزير قال: هذه لا يتزوجها إلا الوزراء مثلي

Dan ketika menteri melihat gadis itu, dia berkata: "Gadis ini tidak ada yang sesuai untuk menikahinya, kecuali seorang menteri seperti aku!"

وأيضا تخاصموا عليها حتى وصلا لأمر إلى أمير البلدة

Pertengkaran terjadi lagi. Akhirnya sampailah mereka menghadap seorang putera mahkota

وعندما حضروا قال: أنا سأحل لكم المشكلة احضروا الفتاة

Putera mahkota berkata: "Aku akan membuat keputusan masalah kamu semua. Bawakan gadis itu ke sini!"

فلما رآها الأمير قال بل هذه لا يتزوجها إلا أمير مثلي

Ketika putera mahkota melihat gadis itu, dia berkata: "Tidak ada yang sesuai untuk menikahinya, kecuali seorang putera mahkota seperti aku!"

وتجادلوا جميعا

Terjadilah perdebatan antara mereka...

ثم قالت الفتاة

Lalu gadis itu berkata:

أنا عندي الحل!! سوف أركض وانتم تركضون خلفي والذي يمسكني أولا أنا من نصيبه ويتزوجني

"Saya ada penyelesaian !!
Kita adakan perlombaan.
Saya akan berlari, dan kamu semua mengejar di belakang saya, siapa yang pertama menggapai saya akan menjadi miliknya maka dialah yang menikahi saya".

وفعلا ركضت وركض الخمسة خلفها الشاب والأب والضابط والوزير والأمير وفجأة وهم يركضون خلفها

Dan benarlah, ketika gadis itu berlari, kelima laki2: anak, ayah, polisi, menteri dan putera mahkota, berlari mengejar gadis tersebut dari belakang.

سقط الخمس في حفرة عميقة

Namun tiba-tiba kelimanya jatuh ke dalam sebuah lubang yang dalam.

ثم نظرت عليهم الفتاة من أعلى وقالت

Kemudian, sambil melihat mereka dari atas, gadis itu berkata:

هل عرفتم من أنا؟
أنا الدنيا!

"Apakah kamu tahu siapa saya? Saya adalah dunia!!
أنا التي يجري خلفي جميع الناس ويتسابقون للحصول على ويلهون عن دينهم

Saya adalah sesuatu yg dikejar dan diperebutkan oleh semua orang, mereka berlomba untuk mendapatkan saya hingga mereka lalai terhadap agama mereka.

 في اللحاق بي حتى يقع في القبر ولم يفوز بي

Mereka bersenang-senang untuk mengejar, sampai akhirnya masuk ke liang kubur, namun mereka tidak memenangkan atas diriku".

اللهم لاتجعل الدنيا اكبر همنا

Allaahumma laa taj'alid-dunya akbara hammi-naa.

"Ya Allaah, janganlah  Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar kami.."

" ber megah2an telah melalaikan kamu sampai masuk dalam Q U B U R.."

....Q  102: 1-2....

RAHASIA PERSELINGKUHAN


Suatu hari, seorang wanita pembantu rumah tangga mendatangi majikan perempuannya.

Pembantu: “Nyonya, saya mau minta naik gaji…”

Nyonya: “Kenapa saya harus menaikkan gaji kamu?”

Pembantu: “Ada 3 alasan nyonya… Pertama saya membersihkan rumah lebih bersih 
daripada nyonya.”

Nyonya: “Siapa yang bilang?”

Pembantu: “Tuan yang bilang nyonya.”

Nyonya: “Oh…”

Pembantu: “Kedua, saya memasak lebih enak daripada nyonya.”

Nyonya: “Siapa yang bilang?”

Pembantu: “Tuan yang bilang.”

Nyonya: “Oh…”

Pembantu: “Ketiga, saya di ranjang lebih hebat daripada nyonya.”

Nyonya: “Oh!!! Apa tuan juga yang bilang!?!”

Pembantu: “Bukan nyonya, tapi tuan sebelah rumah yang bilang, kalo nyonya kurang hebat 
di ranjang.”


Nyonya: “Ssssstt!!! Kamu minta naik berapa???”



Peran Istri bagi Suami

Suatu hari di danau buaya ada pertandingan, bagi siapa yg berani cemplung ke danau dan naik lg ke tepi danau akan mendptkan hadiah Rp.100.000.000,- 

Setelah ditunggu sekian lama tdk ada yg berani terjun. 

Akhirnya terdengar suara "byyyyuur" dan terlihat ada seorang laki-laki terjun ke danau kemudian dgn sekuat tenaga ia berenang menuju tepi danau dgn raut muka yg pucat krn dikejar buaya, dgn napas tersengal sengal, akhirnya sampai juga di tepi danau.

Pengunjung bersoraaaak...
panitia memberi salam kepadanya demikian pula diberikan hadiah Rp.100.000.000,- 
Tetapi dia dgn marah sekali berkata sambil setengah berteriak: "Saya mau tahu, siapa tadi yg sngaja mendorong sy ke danau?"

Setelah tengok ke belakang terlihat isterinya senyum senyum senang dpt uang 100 jt.

Benarlah kata pepatah.......:


DI BELAKANG SUAMI YG SUKSES,  AKAN ADA SEORANG ISTERI YG SELALU MENDORONGNYA.😄😄😄..

Entri yang Diunggulkan

Generasi Rawan Lupa, Servis dalam Rumah Tangga

10 Hal Romantis Rasulullah yang Ditinggalkan Generasi  Now Rumah tangga Rasulullah SAW luar biasa. Rasulullah SAW dan istri-istriny...