Senin, 16 Januari 2017

Bahagianya Mencintai Nabi

Bahagianya  Mencintai  Nabi
Oleh : Mardiansyah


         “ Katakanlah ( Muhammad ); Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku (Muhammad).
        Niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa – dosa kalian. Dan Allah Maha
        Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( Ali – Imran [3]: 31 )
           
Cinta itu membuat seseorang menjadi lebih antusias, bahagia, gairah, penuh semangat dan     harapan. Lebih – lebih cinta kepada Allah dan Rasul-Nya

            Ayat di atas merupakan hikmah yang besar, bahwa siapa saja yang mengaku mencintai Allah tetapi tidak mengikuti Rasulullah, ( ingkar sunnah ) maka ia sungguh dusta. Bukti bahwa ia cinta, ia benar-benar mengikuti syariat yang dibawa oleh Rsulullah.  
            Bahkan tidaklah sempurna iman seseorang, kecuali dengan mencintai Rasulullah. Karena itu, Allah memerintahkan kaum muslimin untuk mencintai Nabi melebihi cinta kepada dirinya, keluarganya, harta dan seluruh manusia.
            Sebagaimana Firman-Nya, “Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan ( dari ) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.”Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”( At – Taubah [9] : 24 )
            Rasulullah juga bersabda, “Tidak sempurna iman salah seorang diantara kalian sehingga aku lebih dicintai daripada dirinya, anak-anaknya, ibu-bapaknya dan seluruh manusia.” ( Riwayat Bukhari-Muslim ).

Cinta Rasul
            Cinta Rasul merupakan bagian dari cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah menuntut konsekuensi mencintai semua yang Allah cinta, dan membenci apa yang Allah benci. Sehingga mencintai Rasulullah, termasuk kecintaan kepada Allah. ( Al-Hasyr [59] : 7 )
            Ibnu Qoyyim (murid terbaik Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) mengatakan, “Semua kecintaan dan pengagungan kepada manusia dibolehkan hanya karena ikut kepada kecintaan Allah”.
            Dengan demikian, Cinta kepada Rasulullah mengharuskan kita mencontoh dan bersikap sama denga Rasulullah dalam segala hal yang dicintai dan dibenci. Membenarkan apa yang dikabarkan, melaksanakan apa yang diperintah, dan tidak beribadah kecuali dengan apa yang beliau perintahkan. Segenap kaum Muslimin, juga diwujudkan berittiba’  kepada beliau. Mencintai apa saja yang ia cintai dan membenci semua yang beliau benci. Ridha dengan semua yang ia ridhai, dan marah terhadap semua yang ia marah padanya. (Huquq an-Nabi, 1/289 dengan sedikit perubahan)
            Kita lihat, betapa besarnya kecintaan para sahabat kepada Nabi. Mereka wujudkan kecintaan tersebut dalam amal nyata. Di antaranya dengan melaksanakan seluruh perintahnya, merendahkan suara dan bersikap takzim di hadapanya.
            Umar bin Khathab berkata kepada batu Hajar Aswad, “Engkau hanyalah batu, seandainya aku tidak melihat kekasihku (Rasulullah) menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu pula.”
            Pernah suatu ketika Abdullan bin ‘Umar mengendarai kuda dan ketika melewati suatu jalan ia menghentikan kudanya lalu ia menengok ke kanan dan ke kiri dan tersenyum.Ketika para sahabat menanyakan mengapa ia melakukan hal ini, beliau menjawab, “Aku melihat Rasulullah melakukan seperti ini ketika dijalan ini.”
            Demikian pula sikap para sahabat ketika menerima perintah dari Rasulullah. Mereka bersikap sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taati). Ketika turun ayat diharamkanya khamr, mereka langsung memecahkan gerabah-gerabah penyimpanan minuman keras mereka. Sampai diibaratkan, kota Madinah banjir arak ketika itu. Demikian pula sikap shahabiyyat (kaum perempuan) menerima perintah menutup aurat. Mereka langsung mengenakan jilbab meski dengan memotong kain-kain kelambu yang mereka temukan.
            Ketika beliau mencabut emas dari jari-jari salah seorang sahabat sebagai tanda pengharamannya memakai emas bagi laki-laki, sahabat yang memakai berkata, “Ambil emasmu lagi, barangkali masih bermanfaat bagi istrimu atau anak perempuanmu!” Maka sahabat tersebut berkata, “Tidak, aku tidak akan mengambil apa yang  oleh Rasulullah sudah cabut dariku.”
            Demikian saat menerima perintah jihad. Mereka berangkat ke medan pertempuran meski dengan berjalan kaki  menembus gurun pasir yang panas, dan pada saat musim paceklik pula. Meski dengan bekal yang minim, mereka tetap berangkat. Bahkan ada diantara mereka yang masih mempunyai anak bayi, pengantin baru, dan kekurangan bahan makanan di rumah. Namun semua itu tidak menyurutkan langkah, untuk menyambut seruan jihad bersama Rasulullah.
            Bagaimana dengan kaum muslimin di era millenium ke tiga ini. Subhanallah.Tantangannya luar biasa. Ketika diperintah menutup aurat, penentangannya luar biasa; disuruh meninggalkan kharm (termasuk narkoba) susahnya setengah mati; diperintah jujur dan amanah saja masih saja KKN tak hilang-hilang. Dan masih sederet syariat lagi. Ngeri kalau dirinci.

Bukti Dan Tanda Cinta
            Cinta sejati sudah barang tentu harus dibuktikan. Lantas apa bukti bahwa seseorang mencitai Rasulullah?
            Seseorang yang benar-benar cinta Rasulullah ialah orang yang mengikuti Rasulullah secara lahir batin. Selalu menyesuaikan semua perkataan dan perbuatannya dengan sunnah Rasulullah. Bukan sebagaimana keyakinan sebagian orang dengan berkata ; yang penting hatinya. Mengikuti Nabi bukan hanya secara batin saja, tetapi lahir dan batin. Islam bukan ajaran kebatinan.


Pengakuan Cinta
            Seseorang tidak dikatakan cinta Rasulullah sampai dia mencintainya diatas dirinya, keluarganya, harta dan seluruh manusia. Jika ia benar-benar cinta pada Rasulullah, tentu ia akan mengikuti petunjuk beliau dan mengutamakan beliau dari pada petunjuk siapa pun dari kalangan manusia.

            Al-Qodhi bin ‘iyadh berkata : ketahuilah bahwa orang yang mencintai sesuatu, ia pasti akan mengutamakan kecocokan denganya. Jika tidak, maka palsu dalam cintanya. Dan ia hanya mengaku-aku saja. Imam Ibnu Rojab al-Hambali (wafat 795 H) berkata ; kecintaan yang benar adalah mengharuskan mengikuti dan mencocoki didalam kecintaan apa-apa yang dicintai dan membenci apa yang dibenci …………maka barang siapa yang mencintai Allah dan Rasulullah dengan kecintaan yang benar di hatinya, hal itu menyebabkan dia mencintai dengan hatinya apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Dan membenci apa yang dibenci Allah dan Rasul-nya. Ridha dengan apa yang ia ridhai dan murka dengan apa yang ia murkai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

Generasi Rawan Lupa, Servis dalam Rumah Tangga

10 Hal Romantis Rasulullah yang Ditinggalkan Generasi  Now Rumah tangga Rasulullah SAW luar biasa. Rasulullah SAW dan istri-istriny...