Senin, 16 Januari 2017

cegah anak durhaka

8 Langkah Mencegah

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Al-Isra’ [17]:23)


Hukum ‘Uququl Walidain
            Hadirin ….. ‘Uququl wlidain adalah perbuatan durhaka atau menyakiti hati orang tua, baik dengan ucapan, atau perbuatan seperti memutuskan hubungan baik dengannya. Dan perbuatan jahat ini haram hukumnya dan termasuk dosa besar.
            Dalil yang menyatakan demikian diantaranya riwayat Anas ibnu Malik, ia berkata, “Nabi ditanya tentang dosa-dosa besar, beliau menjawab: yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” (Riwayat Bukhari)
            Riwayat dari Abdullah ibnu Umar Radhiyallahu Anhu (RA), ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (SAW) bersabda, Ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga, (dalam redaksi yang lain, Allah tiada akan melihatnya pada hari kiamat), yaitu orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.” (Riwayat An-Nasa’i)

            Hadirin ….. Di dalam Al-Qur’an, larangan berbuat durjana kepada orang tua serta perintah agar berbakti kepada keduanya sangatlah banyak. Allah berfirman di dalam surat An-Nisa’ ayat 36 :
”Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, ….. (An-Nisa’ [4] : 36)
Ayat dan hadist di atas menunjukkan betapa besar bahaya yang ditimbulkan karena mendurhakai orangtua. Yakni tidak dimasukkannya ke dalam surga dan terhalang mendapatkan rahmat Allah ta’ala.
Penyebab ‘Uququl walidain
            Hadirin ….. Adapun penyebab durhaka kepada kedua orangtua boleh jadi karena kesalahan orangtua, atau salah dalam mendidik. Misalnya menyekolahkan anak di pendidikan keduniawian saja, atau di sekolah yang buruk lingkungannya, sehingga perilaku anak menjadi nakal, menjadikan moralnya liar dan ganas.
            Penyebab lain adalah dari faktor orang tua yang  tidak bisa dijadikan teladan, tidak adil, menyia-nyiakannya seperti tidak mau mengurusinya, berbuat kasar dengan kata-kata maupun tindakan, dan sering memarahinya. Selain itu juga kehidupan suami istri yang retak, orangtua yang selalu menjauh dan tidak akrabdengan anak-anak, tidak ingin direpotkan anak, memanjakannya secara berlebihan,dan suka menzoliminya.

Hadirin ………… sedang bentuk kedurhakaan dari faktor anak penyebabnya antara   lain ; anak malas belajar tauhid yang benar, enggan solat di masjid, hobinya bergaul dengan anak-anak nakal, dibesarkan dilingkungan yang materialistis dan serba permisif.
Maka tidak heran muncul anak yang dulunya baik menjadi penentang, yang semula tawaddhu menjadi beringas.
Dalam hal ini Rosulullah SAW bersabda, “seseorang itu berdasarkan agama temannya, karena itu hendaklah diantara kamu  melihat siapa kawannya.” (Riwayat Abu Dawud, dan Tirmidzi).

Fenomena (keadaan yang dapat diamati) ‘Uququl walidain
Hadirin ……….. terdapat sejumlah indikasi (kecenderungan) anak durhaka, seperti : selalu menyusahkan orang tua dengan perkataan maupun perbuatan, membentak dan menghardiknya, berkata oh (uf),  meremehkannya atau menolak perintahnya. Juga bermuka masam tidak berkenan menemani atau mengantar orang tua pada saat dibutuhkan, mengejek dan membodoh-bodohkan, memperbudak, menghina masakannya, tidak mau membantu menyelesaikan pekerjaan dan bebannya.
Selain itu tidak memperhatikan serta mengabaikan kebutuhannya, jarang meminta ijin jika keluar rumah atau memasuki kamarnya, tidak mengakui sebagai orangtuanya, menyesali terlahirkan darinya. Atau juga melakukan kekejian dihadapannya, mencemarkan nama baik dan kehormatannya, terlalu banyak menuntut diluar kemampuannya, menginginkannya supaya cepat mati agar segera dapat warisannya, dan tidak pernah bersilaturahim, tidak pula mendo’akannya.

Hadirin …….. Namun tidak semua yang dapat menyakitkan hati orang tua atau menolak perintahnya  dinamakan kedurhakaan (‘uququl walidin). Misalnya menolak perintah mereka  yang melanggar agama, menolak untuk berbuat musrik, bid’ah, dan maksiat. Jika ada ayah-ibu memerintahkan putrinya untuk menanggalkan jilbab jika keluar rumah , atau melarang solat berjamaah, menyuruh membelikan  rokok serta melakukan perbuatan mungkar lainnya, maka anak wajib menolaknya dan mendakwahinya dengan baik.
Rosulullah bersabdah yang artinya : “tidak wajib mentaati makluk yang memerintahkan maksiat kepada Alloh,” (Riwayat Ahmad)

Menghindari ‘Uququl walidain
Hadirin ………. Anak durhaka bisa jadi berangkat dari orangtua yang durhaka pula alias menyepelehkan hak-hak anak. Untuk itu, para orang tua sudah sepatutnya melakukan koreksi diri.
Pertama, hendaknya setiap keluarga terutama Bapak dan Ibu, mendalami aqidah dengan benar. Mengamalkan syariat islam dan menjadikan dirinya teladan yang baik bagi anak-anaknya.
Kedua, Orangtua hendaknya istiqomah dalam perkataan dan perbuatan . Orangtua bukanlah pembuat hukum, sehingga semaunya sendiri boleh melanggar dan memaksa anak sementara dia sendiri  tidak mampu membuktikan apa yang jadi perintahnya.
Ketiga, Orang tua hendaknya menjaga lisan  dan perbuatannya dari hal yang haram. Berbicara yang baik, penuh dengan kasih sayang kepada anak. Rosulullah SAW bersabdah; “Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari Akhir hendaknya berkata yang baik atau diam.” (Riwayat Muslim)
Keempat, jika orang tua memperlakukan adil kepada anak , maka akan memberi kesan  dan membendungnya dari kekecewaan  dan kedurhakaan. Maka hendaknya berbuat adil.
                                                                                                  ……
 “….Berbuat adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwah.” (Al-Maidah [5]:8).

Kelima, selalu menasehati anak sebagaimana yang Alloh perintahkan;
                  
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka……” (At-Tahrim[66]:6).
Keenam, mendidik anak dengan pendidikan tauhid, menasihati mereka agar selalu merasa selalu diawasi Alloh Ta’ala. Sebagaimana yang dilakukan Luqman kepada anaknya;
“Hai anakku, jika ada perbuatan seberat biji sawi yang berada dalam batu atau dilangit atau dibumi, niscaya Alloh akan memberinya balasan. Sesungguhnya Alloh Maha halus lagi Maha mengetahui.” (Luqman[31]:16).
Ketujuh, orangtua seharusnya  memperhatikan pergaulan anak, lingkungan (bi’ah) yang kondusif memelihara tumbuhnya iman, mengarahkan mereka agar giat belajar, membiasakan berbuat baik, dan menjauhkan permainan yang merusak moral.
Kedelapan, orang tua wajib pula mendo’akan anak-anaknya agar mendapatkan hidayah dan senatiasa dijaga dari dalam kebaikan.

Hadirin ……….. Adalah sebuah kejanggalan, bila ada orang yang lebih dekat  dengan sahabat, bergaul mesra dengan kolega, bisa harmonis dalam kerjasama dengan orang lain, namun kurang mesra bahkan jahat kepada orang tua atau anaknya sendiri.

Hadirin ……….. Akhirnya, mari kita berupaya memperbaiki aqidah, ibadah, akhlak dan muamalah dalam aktivitas keseharian kita. Semoga kita tidak termasuk bagian dari anak durhaka, atau orang tua yang durhaka karena menelantarkan hak-hak anak.

Amin, semoga Alloh senantiasa  memberikan petunjuk, taufiq, dan hidayah-Nya kepada kita semuanya. Amin-amin ya rabbal ‘alamin.
Barakallahu li walakum ……..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

Generasi Rawan Lupa, Servis dalam Rumah Tangga

10 Hal Romantis Rasulullah yang Ditinggalkan Generasi  Now Rumah tangga Rasulullah SAW luar biasa. Rasulullah SAW dan istri-istriny...