Jumat, 13 Januari 2017

CICAK fuwaisiq

CICAK fuwaisiq


Diriwayatkan dari ‘Amir bin Sa’d, dari ayahnya :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا
Bahwasannya Nabi saw memerintahkan membunuh cicak dan beliau menamakannya binatang fuwaisiq (fasik kecil)” [HR.Muslim]


Ajaran islam yang syumul (komprehensip) tidak hanya mengatur urusan hubungan manusia dengan sesama namun islam juga mengatur manusia dengan alam sekitar termasuk hewan yang ada di sekelilingnya. Di antaranya adalah memperlakukan binatang. Dalam islam ada binatang yang dianjurkan untuk dibunuh namun di sisi lain ada binatang yang tidak boleh dibunuh bahkan dengan menolong dan berbuat baik padanya dapat mengantarkan seseorang masuk surga dan menyiksanya akan menyebabkan masuk neraka.

Diantara binatang yang dianjurkan dibunuh adalah cicak. Membunuh disini tidak identik dengan menyiksa karena Rasul SAW bersabda :

 مَنْ قَتَلَ وَزَغًا فِي أَوَّلِ ضَرْبَةٍ كُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَفِي الثَّانِيَةِ دُونَ ذَلِكَ وَفِي الثَّالِثَةِ دُونَ ذَلِكَ
Barang siapa yang membunuh cicak sekali pukul, maka dituliskan baginya pahala seratus kebaikan, dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala yang kurang dari pahala pertama. Dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala lebih kurang dari yang kedua. [HR.Muslim]

Pahala yang lebih besar didapatkan jika membunuh cicak dengan sekali pukulan artinya meminimalkan penyiksaan kepadanya. Membunuh cicak dengan tanpa menyiksa akan lebih banyak pahala di samping hal itu adalah kebaikan yang disegerakan.

Di sisi lain, Islam melarang membunuh katak. Dalam satu hadits disebutkan :
أَنَّ طَبِيبًا سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ ضِفْدَعٍ يَجْعَلُهَا فِى دَوَاءٍ فَنَهَاهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ قَتْلِهَا.
“Ada seorang tabib menanyakan kepada Nabi SAW mengenai katak, apakah boleh dijadikan campuran obat. Kemudian Nabi SAW melarang untuk membunuh katak.” [HR Abu Daud]

Katak dan cicak adalah dua binatang yang kontras, yang satu dianjurkan dibunuh sementara yang lain dilarang membunuhnya. Selain karena hal ini sudah menjadi ketetapan wahyu, namun di sisi lain ada alasan yang menjadi latar belakang perbedaan hukum keduanya.

Sa’ibah Maulah al-Fakih bin al-Mughirah menemui Aisyah RA dan melihat di rumahnya terdapat sebuah tombak yang tergeletak. Dia pun bertanya kepada Aisyah,”Wahai Ibu kaum mukminin apa yang engkau lakukan dengan tombak ini?” Aisyah menjawab,

نَقْتُلُ بِهِ هَذِهِ الْأَوْزَاغَ فَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَنَا أَنَّ إِبْرَاهِيمَ لَمَّا أُلْقِيَ فِي النَّارِ لَمْ تَكُنْ فِي الْأَرْضِ دَابَّةٌ إِلَّا أَطْفَأَتْ النَّارَ غَيْرَ الْوَزَغِ فَإِنَّهَا كَانَتْ تَنْفُخُ عَلَيْهِ فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَتْلِهِ
Kami gunakan untuk membunuh cicak-cicak. Karena sesungguhnya Nabi saw pernah memberitahu kami bahwa tatkala Ibrahim as dilemparkan ke dalam api tak satu pun binatang di bumi saat itu kecuali dia akan memadamkannya kecuali cicak yang meniup-niupkan apinya. Maka Rasulullah saw memerintahkan untuk membunuhnya. [HR Ibnu Majah]

Alasan yang sama, terdapat dalam hadits shahih berikut :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَقَالَ كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام
bahwa Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh cicak. Dan Beliau bersabda: "Dahulu cicak ikut membantu meniup api (untuk membakar) Ibrahim AS. [HR Bukhari]

Dalam hadits yang lain, Nabi saw menjelaskan latar belakang katak dan cicak, beliau bersabda :

كانت الضفدع تطفئ النار عن إبراهيم وكان الوزغ ينفخ فيه ، فنهي عن قتل هذا ، وأمر بقتل هذا
Dahulu katak memadamkan api dari nabi Ibrahim (ketika dibakar), sedangkan cicak meniup-niupnya (menghidupkan bara apinya), maka dilarang membunuh ini (katak) dan diperintahkan membunuh ini (cicak)” [Mushannaf Abdur razzaq]

Ternyata latar belakang kebaikan katak inilah yang menjadikan kita dilarang membunuh katak.  Alasan ini seperti berlaku kepada kelelawar yang mana kita dilarang untk membunuhnya. Abdullah bin ‘Amr berkata :

لَا تَقْتُلُوا الضَّفَادِعَ فَإِنَّ نَقِيقَهَا تَسْبِيحٌ , وَلَا تَقْتُلُوا الْخُفَّاشَ فَإِنَّهُ لَمَّا خَرِبَ بَيْتُ الْمَقْدِسِ قَالَ: يَا رَبِّ سَلِّطْنِي عَلَى الْبَحْرِ حَتَّى أُغْرِقَهُمْ.
Janganlah kalian membunuh katak karena sesungguhnya suaranya adalah tasbih, dan janganlah kalian membunuh kelewar karena sesungguhnya ketika Baitul Maqdis hancur ia berdo’a: “Wahai Tuhanku, berilah aku kekuasaan terhadap lautan agar aku bisa menenggelamkan mereka!”.[HR Baihaqi Dalam Sunan Kubra, Sanadnya sahih]

Kelewar, Hewan yang bisa dibilang lemah tak berdaya namun mempunyai keinginan kuat untuk mempertahankan rumah Allah nan agung yang mulai hancur. Tak tanggung-tanggung ia berdo’a kepada Allah, Ia tidak meminta sebongkah batu, sebatang pohon, atau bahkan sebuah gunung akan tetapi ia minta kuasa akan lautan agar ia dapat menenggelamkan orang-orang yang merusak baitul maqdis saat itu.
Pembahasan edisi odoh kali ini, saya ingin menyadarkan kepada alvers semua bahwa Allah akan menghargai usaha baik kita dalam membantu melawan kedzaliman meskipun usaha kita tidak signifikan dan tak ada artinya karena kita bukan siapa-siapa. Lihatlah api besar yang meliputi Nabi ibrahim dan lihat pula betapa sedikitnya air yang dibawa oleh katak sehingga tidak berpengaruh sedikitpun untuk memadamkannya. Namun lihat bagaimana agama ini memberikan penghargaan kepada sang katak.

Tidak hanya usaha, Allah juga akan menghargai doa meskipun dalam keterbatasan usaha kita dalam melawan kedzaliman. Lihatlah kelelawar tadi yang berdoa dengan menggelora meskipun ia tidak memiliki kekuatan dan kemampuan apa-apa bahkan terkesan doa tanpa perbuatan apa-apa. Namun lihatlah bagaimana ajaran islam memberikan balasan kepada sang kelelawar.

Hari-hari ini kita disuguhkan sebuah kedzaliman besar, berupa penghinaan kepada ayat-ayat al-Qur’an. Meskipun nun jauh di sana, Di kota jakarta sedangkan kita di pelosok desa, kita tidak mampu menjangkaunya, kita tidak memiliki kekuatan bahkan apa yang kita perbuat dalam membantu melawan kedzaliman besar tersebut mungkin tiada artinya, namun janganlah berputus asa. Allah tidak akan menyia-nyiakan apa yang anda berikan layaknya setitik air yang di bawa katak di atas, bahkan Allah tidak akan menyia-nyiakan sekedar doa. Berdoalah dengan semangat doa kelelawar dalam melawan kedzaliman.

Dengan apa yang anda lakukan minimal anda menunjukkan kemanakah anda berpihak layaknya dongeng (bukan hadits) seekor semut membawa setetes air. Seekor burung kemudian bertanya, "Untuk apa kamu bawa air itu?" Semut menjawab : "Ini air untuk memadamkan api yang sedang membakar kekasih Tuhan, Ibrahim." Burung berkata : " tak akan guna air yang kamu bawa." Semut menimpaliny: "Aku tahu, tetapi dengan ini aku menegaskan di pihak manakah aku berada." Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk membantu melawan kedzaliman baik dengan usaha maupun doa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

Generasi Rawan Lupa, Servis dalam Rumah Tangga

10 Hal Romantis Rasulullah yang Ditinggalkan Generasi  Now Rumah tangga Rasulullah SAW luar biasa. Rasulullah SAW dan istri-istriny...