Senin, 16 Januari 2017

Banyak Jalan Menuju Ka’bah

Banyak Jalan Menuju Ka’bah







Setiap Muslim memang sudah dipanggil berhaji. Namun, sedikit sekali yang bersungguh-sungguh mau menyambutnya. Itupun niatnya kebanyakan masih bercampur dengan kepentingan dunia, misalnya ingin mengejar titel haji.

            Umar bin Khathab bahkan pernah mengatakan bahwa kebanyakan orang kaya yang berhaji adalah untuk rekreasi (rihlah), sementara kalangan menengah untuk bisnis (tijarah) dan kalangan miskin untuk meminta-minta (mas’alah).

            Orang yang berhaji secara seremonial banyak tetapi yang berangkat sebagai tamu Allah Subhanahu wa ta’ala (SWT) sedikit (al-hujjaju kastirun wal qalilun).

            Memang memprihatinkan, ibadah haji yang nilainya luar biasa ternyata belum betul-betul menjadi keinginan terbesar bagi kebanyakan umat Islam. Sekalinya ada yang sangat mengidam-idamkan dan berhasil menunaikannya, eh niatnya banyak melenceng.

            Bukankah kita ingin dicatat Allah SWT sebagai hamba-Nya yang bersungguh-sungguh mememenuhi perintah-Nya, khususnya panggilan berhaji? Bukankah kita juga ingin mereguk nilai dan mengalami transformasi hidup dari ibadah haji dan bukan sekedar merasakan sensasi pengalamanya saja ? Jika jawabnya ya, maka beberapa tips berikut ini perlu segera terapkan.

1. Sadarilah bahwa ibadah haji adalah kewajiban yang harus kita penuhi.

            Kita tak bisa ber-Islam secara sempurna bila kita tidak melaksanakan semua kewajiban dalam rukun Islam secara utuh. Kalau pun, misalnya, kondisi obyektif kita saat ini tidak memiliki kemampuan finansial, itu bukan berarti kawajiban berhaji menjadi gugur dan boleh kita tinggalkan. Ini karena kita belum mengejar “kondisi mampu” itu dengan sungguh-sungguh.

            Dalam hal apapun, kalau kita tidak benar-benar meniatkan dan tidak betul-betul berkomitmen untuk mampu mewujudkannya, maka sesuatu itu tak akan pernah terjadi. Begitu pula dengan ibadah haji, kalau keinginan saja tidak ada, bagaimana mungkin kita bisa melaksanakan haji?

            Memang, ada yang bisa berhaji secara gratis karena mendapat rezeki mendadak. Namun, hukum dasar berhaji tidak boleh berharap-harap seperti itu. Bagaimana pun harus ada usaha dulu.

            Lagi pula, dengan niat dan kesungguhan, nilai kemuliaannya akan lebih tinggi disisi Allah SWT dari pada tidak ada usaha sama sekali. Yang penting, kita sambut dulu panggilan berhaji dengan bukti nyata. Perkara terwujud atau tidak, itu hanya soal waktu.

2. Berusaha menggali dan menghayati keutamaan berhaji dan berumrah.

Ø  Barang siapa berhaji ke Baitullah ini, dan dia tidak berbuat rafats dan tidak berlaku fasik dan dia akan kembali  seperi di hari ia dilahirkan ibunya - dalam keadaan - bersih dari dosa. (Riwayat Muttafaq alaih)
Ø  Suatu ketika Rasulullah ditanya oleh Sahabatnya, “Ya Rasulullah mana diantara amal yang banyak itu yang lebih utama ?” Rasulullah menjawab, “Iman kepada Allah.dan Rasul-Nya.” Kemudian ditanya lagi, “Apa lagi Ya Rasulullah ?” Dijawab lagi, “Berjihad dijalan Allah.” Kemudian ditanya lagi, “Apalagi ya Rasulullah ?” Dan beliau menjawab, “Haji yang mabrur.” (Riwayat ukhari)
Ø  Sesungguhnya haji itu menghancurkan (dosa-dosa) yang lalu. (Riwayat Muslim)
Ø  Ikutilah antara haji dan umrah, sesungguhnya keduanya itu meniadakan kefakiran dan dosa-dosa sebagaimana api menghancurkan karat-karat besi. (Riwayat Ahmad dan Ash-habus Sunan)
Ø  Di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi terdapat tempat-tempat istimewa di mana doa sangat mustajab (dijawab oleh Allah SWT). Di tempat-tempat itulah Allah SWT menjajikan ampunan dan pahala yang luar biasa, serta rahmad dan ridho-Nya. Adakah yang lebih berharga di dunia ini selain ketika kita bisa berkesempatan mendapatkan ridho dan ampunan Allah SWT di tempat yang sudah dijanjikan?

3. Tancapkan niat yang sungguh-sungguh bahwa, “Saya harus dan pasti bisa berhaji.”

            Niat pada hakekatnya adalah sesuatu yang diputuskan oleh otk, kemudian mendorong seseorang untuk berusaha keras mencapai dan menuju kepadanya.
            Jadi, sesuatu bisa disebut niat bila ia bisa mempengaruhi, bahkan mengobsesi kita untuk berusaha mewujudkannya. Dengan kata lain, sesuatu itu memberikan energi jiwa yang bisa mendorong diri untuk menempuh berbagai cara dalam rangka mewujudkanya.
            Dari definisi itu, coba tanyakan pada diri sendiri, apakah betul kita sudah berniat untuk berhaji? Jangan-jangan kita belum betul-betul memiliki niat tersebut. Kita selalu bersikap apriori. Belum apa-apa sudah merasa tidak mampu.
            Mumpung kita masih hidup, niatkanlah untuk pergi haji. Kalaupun kita mati dan belum kesampaian berhaji, insya Allah, paling tidak kita telah dicatat sebagai hamba-Nya yang sudah melangkah untuk berhaji.

4. Wujudkan niat secara nyata.

            Haji termasuk ibadah maliyah (yang menggunakan harta), sehingga mau tidak mau kita harus mempersiapkan seoptimal mungkin. Entah kita termasuk orang mampu secara harta, orang yang biasa-biasa saja, atau orang yang tidak mampu sama sekali, harus membuktikan niatnya secara kongkrit.

            Apapun sumber dan caranya, asal halal, kita harus mendapatkan biaya untuk berhaji. Cobalah anggarkan ongkos naik haji (ONH) bagi yang mampu, dan menabunglah bagi yang belum mampu, serta betul-betul mementingkan agenda ini dari urusan dunia yang jelas-jelas tidak penting seperti boros jajan, merokok, dll.

            Alhamdulillah sekarang ini kita memiliki begitu banyak kemudahan. Tidak seperti dulu, bank-bank syariah banyak membuat tabungan haji, yakni tabungan yang tak bisa kita ambil sewaktu-waktu kecuali jika memutuskan diri jadi nasabah.

            Semakin sering kita menabung, saldonya akan mendekati limit untuk bisa didaftarkan ke Departemen Agama. Cara lain yang juga banyak ditempuh adalah dengan arisan haji.

5. Kuasai ilmu seputar haji.

            Rasulullah telah memberi peringatan bahwa ibadah yang tidak di dasari ilmu tidak akan diterima oleh Allah SWT. Begitu pula ibadah haji, kita harus memiliki pemahaman yang utuh, baik dimensi fighnya, sejarahnya, serta makna hakikinya.

            Memang, setiap orang yang mau berangkat haji pati akan menjalani manasik haji, yakni proses pemahaman serta latihan berhaji. Tapi, bukankah akan lebih baik jika penguasaan itu sudah kita miliki jauh-jauh hari sebelum kita berangkat?

            Dan, yang lebih penting, belajar ilmu haji menunjukkan keseriusan kita untuk memenuhi panggilan-Nya. Mudah-mudahan dengan keseriusan itu, Allah SWT akan mempercepat dan mempermudah kita untuk sampai ke Tanah Suci.

6. Memperbanyak doa serta mengkondisikan sekitar kita dengan hal-hal yang bisa membangkitkan  
    semangat berhaji.

            Yang tidak kalah penting untuk bisa mewujudkan cita-cita besar itu adalah berdoa setiap hari agar Allah SWT mempermudah langkah dan persiapan yang sudah kita mulai agar semakin cepat terwujud.

            Begitu pula ada bagusnya membuat niat berhaji terus terpelihara dengan cara memajang gambar/foto Masjidil Haram. Atau, bisa juga dengan memajang kalimat motivasi dimeja kerja atau pintu lemari, seperti Baitullah, tunggu kedatanganku!, Ku Tahu, Ka’bah yang kumau, dan lain-lain. Wallahu a’lam bish Shawab.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

Generasi Rawan Lupa, Servis dalam Rumah Tangga

10 Hal Romantis Rasulullah yang Ditinggalkan Generasi  Now Rumah tangga Rasulullah SAW luar biasa. Rasulullah SAW dan istri-istriny...